LAPORAN PRAKTIKUM
JARINGAN PADA AKAR DAN BATANG DIKOTIL DAN MONOKOTIL
OLEH:
EKA JULIANTI
(F05110033)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2012
JARINGAN PADA AKAR DAN BATANG DIKOTIL DAN MONOKOTIL
ABSTRAK
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari sistem jaringan pada batang dan akar dikotil dan monokotil, mempelajari tipe berkas pengangkut pada batang dan akar dikotil dan monokotil, dan mempelajari tipe stele pada batang dan akar dikotil dan monokotil. Metode praktikum dilakukan dengan melakukan pengamatan preparat awetan dan preparat segar batang dan akar dikotil dan monokotil menggunakan mikroskop. Hasil praktikum menunjukkan bahwa tumbuhan dikotil, jaringan – jaringan yang dimilikinya berasal dari sistem apikal. Jaringan – jaringan ini seperti protoderma, jaringan dasar (grown), jaringan meristem serta prokambium. Jaringan ini terdiri dari jaringan epidermis, korteks, endodermis, dan ikatan pembuluh yaitu xylem, floem dan cambium. Pada tumbuhan monokotil jaringan permanen yang terbentuk didapat dari dari jaringan meristem apikal dan meristem interkalar. Tipe berkas pengangkut pada batang dikotil tersusun pada suatu berkas berbentuk bulat dan tertutup. Tipe berkas pengangkut pada batang monokotil terdapat sebaran yang tidak beraturan yang saling berhubungan didalam sitoplasma dan dinamakan tipe kolateral terbuka. Pada batang dikotil terdapat berbagai macam tipe stele, yaitu eustele, sifonostele ektofloik, dan sifonostele amfifloik.
Kata kunci : jaringan, akar, batang, dikotil, monokotil
A. Pendahuluan
Dengan sekitar 275.000 spesies yang telah diketahui, sejauh ini angiosperma merupakan kelompok tumbuhan yang paling beraneka ragam dan paling luas. Para ahli membagi angiosperma menjadi dua kelas : monokotil, dinamai demikian karena kotiledonnya (keping atau daun biji) hanya ada satu dan dikotil, yang memiliki dua kotiledon (campbell,2003).
Selain itu monokotil dan dikotil memiliki beberapa perbedaan struktur yang lain antaranya : pada monokotil susunan tulang daun umumnya melengkung atau menjari, berkas vaskuler umumnya tersusun secara kompleks, sistem akar serabut dan bagian-bagian bunga umumnya dalam kelipatan tiga. Sedangkan dikotil susunan tulang daun umumnya seperti jari, berkas vaskuler umumnya tersusun dalam bentuk lingkaran, sistem akar tunggang dan bagian-bagian bunga umumnya dalam kelipatan empat atau lima (Isharmanto.2011).
Meristem adalah jaringan yang sel-selnya mampu membelah diri dengan cara mitosis secara terus menerus (bersifat embrional) untuk menambah jumlah sel-sel tubuh pada tumbuhan. Meristem terdapat pada bagian-bagian tertentu saja pada tumbuhan. Berdasarkan letaknya, meristem dibedakan atas: 1. meristem apikal (meristem ujung) terdapat pada ujung-ujung pokok batang dan cabang serta ujung akar, 2. meristem interkalar/aksilar (meristem antara), terdapat di antara jaringan dewasa, misalnya pada pangkal ruas batang, 3. meristem lateral (meristem samping), terletak sejajar dengan permukaan organ, misalnya kambium dan kambium gabus (Aldi.2010).
Berdasarkan asal terbentuknya, jaringan meristem digolongkan menjadi dua, yaitu meristem primer dan meristem skunder. Meristem primer pemanjangan meristem apikal, berada pada ujung akar dan pada pucuk tunas, menghasilkan sel-sel bagi tumbuhan untuk tumbuh memanjang. Meristem sekunder, yaitu aktivitas penebalan secara progresif pada akar dan tunas yang terbentuk sebelumnya oleh pertumbuhan primer. Pertumbuhan sekunder adalah produk meristem lateral, silinder-silinder yang terbentuk dari sel-sel yang membelah ke samping di sepanjang akar dan tunas pada tumbuhan berkayu (Campbell.2003).
Dari jaringan meristem sekunder akan menghasilkan pertumbuhan sekunder yang menyebabkan batang menjadi bertambah besat misalnya aktivitas kambium pada batang tumbuhan clikotil akan menghasilkan pembuluh kayu (xilem) ke bagian dalam dan pembuluh tapis (floem) ke bagian luar. Selain itu, terdapat kambium gabus (felogen) yang juga merupakan bagian dari pertumbuhan sekunder yang disebut periderm. Kambium gabus terdiri atas tiga bagian yaitu: 1. felem, yaitu jaringan gabus itu sendiri yang tersusun atas sel - sel mati, 2. felogen, yaitu bagian kambium gabus yang mengarah ke luar membentuk felem, 3. feloderm, yaitu bagian vang dibentuk felogen kearah dalam dan merupakan jaringan yang sifatnva serupa parenkim dan terdiri atas sel-sel hidup (Angga.2009).
Jaringan dewasa merupakan kelompok sel tumbuhan yang berasal dari pembelahan sel - sel meristem dan telah mengalami pengubahan bentuk yang disesuaikan dengan fungsinya (Diferensiasi). Jaringan dewasa ada yang sudah tidak bersifat meristematik lagi (sel penyusunnya sudah tidak membelah lagi) sehingga disebut jaringan permanen. Berdasarkan bentuk dan fungsinya, jaringan dewasa pada tumbuhan dibedakan menjadi empat macam jaringan yaitu: jaringan epiderm, jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong, dan jaringan pengangkut (Steven.2008).
Epidermis adalah sistem sel-sel yang bervariasi struktur dan fungsinya, yang menutupi tubuh tumbuhan primer. Struktur epidermis ini dapat dihubungkan dengan peranan jaringan tersebut sehingga lapisan sel yang berhubungan dengan lingkungan luar. Adanya bahan lemak, kutin, dalam dinding terluar dan pada permukaannya (kutikula) membatasi penguapan. Karena susunan sel-selnya yang kompak dan adanya kutikula yang keras, maka epidermis berfungsi pula sebagai penyokong mekanis. Dinding sel epidermis yang tipis pada akar-akar rambut menunjukkan bahwa epidermis yang tipis dan akar muda berfungsi khusus untuk absorbsi. Epidermis pada bagian tumbuhan tertentu ada yang tetap berfungsi selama hidupnya tumbuhan atau ada yang kemudian diganti oleh jaringan proteksi lain, yaitu periderm (Suradinata.1998).
Jaringan penyokong atau jaringan penguat pada tumbuhan terdiri atas sel-sel kolenkim dan sklerenkim. Kedua bentuk jaringan ini merupakan jaringan sederhana, karena sel-sel penyusunnya hanya terdiri atas satu tipe sel. Kolenkim terdiri atas sel-sel berdinding tebal sebagai jaringan penyokong, sangat berhubungan erat dengan parenkim. Kolenkim seperti halnya parenkim masih mempunyai protoplas, mampu mengadakan aktivitas meristematis. Dinding selnya merupakan dinding primer, tidak berlignin. Kolenkim berbeda dengan jaringan penyokong lainnya yaitu dengan sklerenkim dalam hal struktur dinding dan kondisi protoplas. Kolenkim mempunyai dinding yang lunak, plastis, dinding primer yang tidak berlignin, mempunyai protoplas yang aktif, mampu menghilangkan penebalan dinding jika sel diinduksi untuk aktivitas meristematis, seperti pembentukan kambium gabus atau kalau ada rangsangan luka. Sklerenkim mempunyai dinding yang keras, kaku, dinding sekunder yang biasanya berlignin. Dinding sekunder terdapat pada sel-sel untuk mengalirkan air dari xilem, dan sering terdapat pula pada sel-sel parenkim xilem. Selain itu sel-sel parenkim dalam daerah jaringan lainnya dapat pula bersifat sklereid (sclereid) yang berfungsi untuk mengalirkan air batasannya tidak begitu jelas (Suradinata.1998). Jaringan pengangkut bertugas mengangkut zat-zat yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Ada 2 macam jaringan; yakni xilem atau pembuluh kayu dan floem atau pembuluh lapis/pembuluh kulit kayu. Xilem bertugas mengangkut air dan garam-garam mineral terlarut dari akar ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Xilem ada 2 macam: trakea dan trakeid. Pada trakeid tidak terdapat perforasi (lubang-lubang), hanya ada celah (noktah), berupa plasmodesmata yang menghubungkan satu sel dengan sel lainnya. Sedangkan pada trakea terdapat perforasi pada bagian ujung-ujung selnya. Floem bertugas mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan (Aldi.2010).
Pada jaringan-jaringan memliki perbedaan antara tumbuhan dikotil dan monokotil. Oleh karena itu diadakan praktikum ini, dengan adanya masalah yaitu apa tipe berkas pengangkut yang terdapat pada batang dan akar Arachis hypogaea, Zea mays. Serta bagaimana struktur jaringan yang menyusun akar dan batang dikotil dan monokotil.
B. Tujuan
Penulisan laporan ini bertujuan untuk mempelajari sistem jaringan pada batang dan akar dikotil dan monokotil, mempelajari tipe berkas pengangkut pada batang dan akar dikotil dan monokotil, dan mempelajari tipe stele pada batang dan akar dikotil dan monokotil.
C. Material dan metode
Praktikum ini dilakukan hari sabtu, 24 maret 2012 di Laboratorium pendidikan Biologi FKIP untan pada pukul 07.30 sampai pukul 09.30 WIB.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu preparat awetan batang dan akar dikotil Arachis hypogaea, preparat awetan batang dan akar monokotil Zea mays, sediaan segar monokotil yaitu Zea mays dan dikotil yaitu Arthocarpus integra diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 40 kali.
Metode yang digunakan pada praktikum ini yaitu pertama susunan jaringan yang terdapat pada preparat awetan batang dan akar dikotil Arachis hypogaea, preparat awetan batang dan akar monokotil Zea mays, sediaan segar pada monokotil yaitu Zea mays dan awetan segar yang dikotil yaitu Arthocarpus integra diamati dibawah mikroskop yang mula-mula diperiksa dengan perbesaran lemah. Kemudian pada preparat awetan batang dan akar tersebut dibesarkan satu sektor dan irisan tersebut dengan perbesaran kuat. Kemudian susunan jaringan yang terdapat pada preparat awetan batang dan akar dikotiltersebut digambar dan diberi keterangan. Setelah itu disebutkan tipe berkas pengangkut dan tipe stele masing-masing tanaman dari preparat awetan batang dan akar dikotil Arachis hypogaea, preparat awetan batang dan akar monokotil Zea mays, sediaan segar yang monokotil Zea mays sediaan segar yang dikotil yaitu Arthocarpus integra .
D. Hasil pengamatan
Preparat awetan akar monokotil
Objek : Zea mays
Perbesaran : 4 X 10 Preparat awetan akar dikotil
Objek : Arachic hypogaea
Perbesaran : 4 X 10
Keterangan :
1. epidermis
2. korteks
3. berkas pengangkut
4. empulur
Tipe kolateral : tertutup
Keterangan :
1. epidermis
2. empulur
3. floem
4. xylem
5. korteks
Tipe kolateral :
Preparat awetan batang monokotil
Objek : Zea mays
Perbesaran : 10 X10 Preparat awetan batang dikotil
Objek : Arachis hypogaea
Perbesaran : 40 X 10
Keterangan :
1. epidermis
2. korteks
3. endodermis
4. berkas pengangkut
5. stele
Tipe kolateral : tertutup
Keterangan :
1. epidemis
2. korteks
3.endodermis
4. persikel
5. stele
6. floem
7. xylem
8. empulur
Tipe kolateral : terbuka
Awetan segar monokotil
Objek : Zea mays
Perbesaran : 4 X 10 Awetan segar dikotil
Objek : Arthocarpus integra
Perbesaran : 4 X 10
Keterangan :
1. epidermis
2. korteks
3. berkas pengangkut
4. empulur
Tipe kolateral : tertutup
Keterangan :
1. epidermis
2. korteks
3. berkas pengangkut
4. empulur
Tipe kolateral : terbuka
E. Pembahasan
Sistem jaringan dikotil dan monokotil pada setiap tumbuhan itu berbeda. Jaringan yang dimiliki oleh tumbuhan dikotil berasal dari sistem apikal. Jaringannya yaitu sepreti protoderma, jaringan dasar, jaringan meristem dan prokambium. Jaringan ini terdiri dari jaringan epidermis, korteks, endodermis, dan ikatan pembuluh yaitu xylem, floem dan kambium. Jaringan permanen yang terbentuk pada tumbuhan monokotil didapat dari jaringan meristem apikal dan meristem interkalar. Tumbuhan monokotil pada umumnya tidak memiliki kambium sehingga batangnya relatif lebih kecil dari tumbuhan dikotil.
Berdasarkan bentuk dan fungsinya, jaringan dewasa pada tumbuhan dibedakan menjadi empat macam jaringan yaitu: jaringan epidermis, jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong, dan jaringan pengangkut (Steven.2008). Tumbuhan dikotil terdiri dari jaringan epidermis, jaringan korteks, jaringan endodermis, dan ikatan pembuluh yang terdiri dari xylem, floem dan kambium.
Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim. Letaknya langsung di bawah epidermis, sel-selnya tidak tersusun rapat sehingga banyak memiliki ruang antar sel.
Epidermis merupakan jaringan paling luar yang menutupi permukaan organ tumbuhan, yaitu seperti: daun, bagian bunga, buah, biji, batang, dan akar. Fungsi utama jaringan epidermis yaitu sebagai pelindung jaringan yang ada di bagian sebelah dalam. Bentuk, ukuran, dan susunan, serta fungsi sel epidermis berbeda-beda pada berbagai jenis organ tumbuhan. Ciri khas sel epidermis adalah sel-selnya rapat satu sama lain membentuk bangunan padat tanpa ruang antar sel. Dinding sel epidermis ada yang tipis, ada yang mengalami penebalan di bagian yang menghadap ke permukaan tubuh, dan ada yang semua sisinya berdinding tebal dan mengandung lignin.
Endodermis batang terdiri dari selapis sel yang merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Xylem tersusun atas trakeid dan trakea sebagai saluran pengangkut air dengan penebalan dinding sel yang cukup tebal dan berfungsi sebagai penyokong.
Floem terdiri dari beberapa tipe sel yang berbeda, yaitu buluh tapis, sel pengiring, parenkim, serabut, dan sklerenkim. Unsur penyusun pembuluh floem terdiri atas dua bentuk, yaitu sel tapis berupa sel tunggal dan bentuknya memanjang dan buluh tapis. Dengan bentuk seperti ini pembuluh tapis dapat menyalurkan gula, asam amino serta hasil fotosintesis lainnya dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.
Pada praktikum ini ada 4 jenis preparat awetan untuk mengetahui struktur anatomi batang dan akar monokotil dan dikotil, yaitu preparat batang monokotil Zea mays c.s, preparat batang Arachis hypogaea c.s, preparat akar Zea mays c.s dan preparat akar Arachis hypogaea c.s.
Pada akar Zea mays terlihat bagian luarnya tebal yang merupakan epidermisnya.. Jaringan pembuluh pengakut tepat di bagian tengah sel dalam sitoplasma. Preparat ini tidak memiliki kambium yang memisahkan antara bagian xylem dan floemnya. Pada batang Arachis hypogaea terdiri dari beberapa bagian sel, yaitu epidermis pada bagian terluar kemudian di belakangnya terdapat jaringan dasar atau korteks. Didekat bagian berkas pembuluh terdapat endodermis yang dapat menyokong bagian pembuluh pengangkut. Ikatan pembuluhnya juga terlihat jelas, dimana antara kambium, xylem dan floem telah terpisah dan dapat diamati dengan jelas. Pada akar Arachis hypogaea memiliki bagian yang seperti batang monokotil yaitu terdapat penyebaran yang tidak merata dalam penyebaran sistem pengangkutan. Pada batang Zea mays memiliki sebaran berkas pembuluh yang tidak jelas dan tidak memiliki kambium.
Tipe berkas pengangkut pada batang dikotil dan monokotil memiliki perbedaan, yaitu pada batang dikotil tersusun pada suatu berkas berbentuk bulat dan tertutup. Berhubungan satu sama lainnya dengan ikatan kambium, dengan demikian sering disebut kolateral tertutup. Sedangkan pada batang monokotil terdapat sebaran yang tidak beraturan yang saling berhubungan didalam sitoplasma dan dinamakan tipe kolateral terbuka.
Pada batang dikotil mmemiliki tipe stele, yaitu eustele, sifonostele ektofloik, dan sifonostele amfifloik. Stele merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xylem dan floem. Letak saling bersisian, xylem di sebelah dalam dan floem sebelah luar. Antara xylem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Pada tumbuhan Dikotil, kayunya keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan jadi pertumbuhannya menebal. Pada sediaan segar yang diambil yaitu batang dari Arthocrapus integra dan batang dari Zea mays. Pada pengamatan tentang anatomi mudah diamati karena preparat yang digunakan masih segar.
F. Kesimpulan
Pada praktikum ini dapat disimpulkan pada tumbuhan dikotil jaringan yang dimiliki berasal dari meristem apikal. Jaringan ini terdiri dari jaringan epidermis, korteks, endodermis, dan ikatan pembuluh yaitu xylem, floem dan kambium. Pada tumbuhan monokotil jaringan permanen yang terbentuk didapat dari dari jaringan meristem apikal dan meristem interkalar. Tipe berkas pengangkut pada batang dikotil tersusun pada suatu berkas berbentuk bulat dan tertutup. Tipe berkas pengangkut pada batang monokotil terdapat sebaran yang tidak beraturan yang saling berhubungan didalam sitoplasma dan dinamakan tipe kolateral terbuka. Pada batang dikotil terdapat berbagai macam tipe stele, yaitu eustele, sifonostele ektofloik, dan sifonostele amfifloik.
DAFTAR PUSTAKA
Aldi.2010.Sel dan Jaringan pada Tumbuhan. http//www.tentangbiologi.co.cc/2010/05/sel-dan-jaringan-pada-tumbuhan (diakses, Sabtu 31 Maret 2012).
Angga.2009.Perbedaan Dikotil dan Monokotil http://anggachip.blogspot.com/2009/03/perbedaan-dikotil-dan- monokotil.html (diakses, Sabtu 31 Maret 2012).
Campbell,Neil A.2003.Biologi.Jakarta:Erlangga.
Isharmanto.2011.Angiospermae.http://www.ruangilmu.com/index.php?action=arti kel&cat=40&id=188&artlang=id (diakses, Sabtu 31 Maret 2012).
Steven.2008.Jaringan pada Tumbuhan. http://stevenfilan.blog.friendster.com/2008/10/jaringan-pada-tumbuhan/ (diakses, Sabtu 31 Maret 2012).
Suradinata.1998.Struktur Tumbuhan.Bandung:Angkasa .
